Tadi malam saya dapat berita di IG bahwa ada yayasan pemerhati hewan khususnya anjing di Desa Mertak yang didemo oleh warga. Menurut keterangannya anjing-anjing itu memeakan ternak warga.
Yang menarik adalah pemilik yayasan tersebut adalah bule dan mereka membuat narasi yang mengatakan bahwa warga yang demo tersebut uneducated, atau tidak berprikebinatangan, atau kasar terhadap binatang. Dan narasinya juga mengatakan warga menuntut sejumlah uang.
Dari narasi yang mereka buat yayasan ini memposisikan diri sebagai yang paling teraniyaya dan paling pemerhati binatang kemudian menggalang dana di postingan tersebut. Ya, kejadian ini adalah bahan empuk untuk menggalang donasi. Dibuatkan narasi menyentuh lalu di unggah ke medsos dan orang-orang di seluruh dunia akan melihatnya.
Pola seperti ini pernah terjadi sebelumnya, saat sebuah foto orangutan menghadang alat berat di Sulubussalam, Aceh, yang dipakai orang-orang eropa untuk menghadang produk sawit dari Indonesia. Dibuatkan narasi dan diframing hingga ujungnya menjadi sejata perang dagang.
Kembali ke kasus anjing. Sekarang kita melihat dari sudut pandang warga lokal. Kita sebagai warga lokal selain anjing-anjing tersebut memakan ternak warga juga ada kekhawatiran bahwa anjing-anjing itu akan membawa penyakit rabies yang dimana kita tau penyakit ini sangat berbahaya.
Pihak yayasan seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemerintah setempat seperti kepala desa sebelum membuka yayasan. Dan pemerintah desa juga tidak seharusnya memutuskan secara sepihak, mereka mestinya bicara dengan para kadus atau masyarakat apakah mereka setuju jika yayasan tersebut akan dibangun.
Well.. Saya pernah mendengar beberapa orang mengatakan Lombok akan menjadi Bali baru atau Bali kedua. Menurut saya iya, termasuk sisi negatifnya.
What do you think?, Let's talk.

