Saya pernah mendengar beberapa orang mengatakan Lombok akan menjadi seperti Bali atau akan menjadi Bali kedua di bidang pariwisata.
Seperti yang kita lihat memang pembangunan khususnya di Daerah kuta sedang marak-maraknya. Banyak akomodasi yang sedang dibangun. Ini angin segar bagi generasi muda yang ingin berkarir di industri hospitality kedepannya. Akan tetapi di samping itu kita juga akan menghadapi berbagai tantangan.
Salah satu tamu kami dari Jerman juga pernah mengatakan demikian, Lombok kedepan akan menjadi seperti Bali tapi konsekuensi yang juga mungkin akan terjadi adalah keindahan alamnya akan rusak.
Betul saja. Beberapa minggu yang lalu kita lihat sendiri ketika musim hujan terjadi banjir yang besar di daerah kuta. Hal ini terjadi saya rasa akibat pembangunan properti di atas bukit yang projek manajemennya tidak memperhatikan impact terhadap lingkungan. Lalu ketika musim hujan terjadilah banjir. Banjir bukan sembarang banjir, bukan hanya air tapi lumpur yang turun dari atas bukit. Masyarakat lokal yang tidak memiliki kepentingan bisnis turut menjadi korban. Kalau sudah begini siapa yang bertanggung jawab, investor itu sendiri kah atau pemerintah yang telah memberikan izin pembanguan?. Ini masih menjadi PR dan telah terjadi bertahun-tahun.
Belakangan ini juga muncul isu yang menarik. Masyarakat di Desa Mertak mendemo sebuah yayasan animal care yang khusus merawat anjing liar. Menurut informasi dari warga setempat yayasan ini merawat anjing liar, memberi makan, dan mengobatinya. Ketika anjing-anjing itu sehat kembali yayasan ini melepasnya sembarangan. Mungkin karena efek obat yang telah diberikan anjing-anjing ini menjadi buas dan memakan ternak warga. Warga setempat juga khawatir anjing-anjing tersebut membawa virus rabies.
Setelah diusut ternyata keberadaan yayasan animal care yang dimiliki oleh WNA ini tidak melibatkan warga setempat atas izin keberadaanya.
Itulah, beberapa efek dari berkembangnya pariwisata. Dan bisa jadi kita akan menemukan masah-masalah baru kedepan.
Saya bekerja di sebuah villa dan ex manager saya yang dari Bali pernah mengatakan "you are guys working so great, kalian bekerja melebihi ekspektasi saya". Kita yang mendengarnya cukup seneng karena manager kita puas dengan hasil kerja kita, right.
Tapi kalo kita liat dari sudut pandang yang berbeda atau yang lebih luas, artinya orang dari luar daerah masih menganggap SDM Lombok untuk bidang pariwisata masih low.
Saya juga pernah ngobrol dengan sahabat saya yang merupakan manager restaurant di Kuta dan saya tanya "sebagai manager apa sih yang perlu ditingkatkan dari staff lo?"
Bro menjawab yang intinya begini, orang sini hard skillnya sudah cukup bagus dan yang perlu ditingkatkan adalah soft skillnya. Bro juga menambahkan, orang kita terlalu mengejar uang di awal, mereka tidak pandai membangun relasi, kepercayaan, dan tidak begitu haus untuk meningkatkan ilmunya.
So, tantangannya atau yang mungkin harus dilakukan adalah dari segi lingkungan, pembangunan harus ditertibkan. Ditertibkan dalam artian mereka yang membangun properti harus aware terhadap dampak yang akan timbul sehingga tidak terjadi masalah yang sama setiap tahun. Dalam hal ini mungkin perlu keterlibatan pemerintah untuk turun tangan.
Dari sisi SDM, kita sebagai generasi muda kita harus selalu memiliki willingness to learn, selalu upgrade diri baik hard skill maupun soft skill.
